Tokoh:
- Narator ( yang tengah jalan ikutan main )
- Sumarni ( sebagai Si Kaya )
- Kimi ( Si Miskin )
- Janda Jahat ( sebagai janda )
Ok. Silakan~
Narator: *dengan
nada datar*
Pada suatu ketika,
diwaktu yang biasa saja dan hari yang biasa saja, hiduplah 2 orang anak yang
biasa saja yaitu Kimi dan Sumarni yang biasa saja. Sumarni merupakan anak orang
ningrat yang biasa saja dan bergelimang harta seperti biasanya. Sedangkan Kimi
yang biasa saja lahir di keluarga miskin yang biasa saja. Akhirnya mereka
tumbuh besar dan hidup biasa saja lalu mati dengan biasa saja. Tamat. Daahh,
bubar, bubar *mengibaskan tangan kearah penonton*
*Sumarni protes
dan keluar*
Sumarni: Eh,
serius dikit dong. Belom juga gw beraksi, kok cerita udah abis.
*Kimi muncul
dengan handuk tukang becak di leher*
Kimi: tau tuh,
parah nih. Gak banget deh.
Sumarni: *menatap
kerumunan orang, lalu tersenyum lebar* eh, ada orang. Kenalin dooong, nama gw
Michele.
Kimi: *tertawa
sambil melihat kertas nama besar di dada Sumarni* jelas-jelas Sumarni, mau
banget dipanggil nama barat
Sumarni: kampret.
Ketahuan cantiknya guee. Ini nama kan cinta produk negeri, siiis.
Kimi: cinta negeri
tapi apa-apa beli produk luar. Preett *mengejek*. Sepatu maunya merek luar, Hp
maunya merek luar, tas, jaket, rumah, orang tua maunya merek luar..
Sumarni: udah deh,
lu mah bisanya cuma ngejek aja. Nama lu siapa sih? Heh? ( mengejek ) Paling
paling Tukimin.
Kimi: enak aja,
gini-gini nama gw Kimi.
Sumarni: Kimi..
*mendengus* Kimi kimprit kaki kali *tertawa*
Kimi: Ah, parah. Udah
deh, daripada ribut terus, lu lagi ngapain disini? Daerah ini kan bahaya.
Sumarni: Gw lagi mencari
kalung tersayang yang ilang disini, hiks.. emas 34 karat, lho *dengan nada
songong sambil kibas rambut*
Kimi: sombong pret
Narator: Tiba-tiba
muncul janda jahat kebelakang Kimi dan Sumarni tanpa sepengetahuan mereka.
( Janda perlahan
mendekati mereka )
Kimi: udah deh
Sum. Relain aja kalung lu. Ayo pulang. Ngeri nih.
Janda: Bener tuh.
Katanya disini ada preman janda yang jahat.
Kimi: Lah, kok
preman bisa janda. Gimana ceritanya?
Janda: Nah itu,
sangking jahatnya tu preman, akhirnya menjanda deh.
Sumarni: Kayak
sinetron aja. Itu tuh, JJS.
Janda: JJS?
*heran* apaan tuh?
Kimi &
Sumarni: Janda-Janda Srigala
Janda: Ya ampun.
Tontonan anak muda sekarang kurang gigit banget deh.
Sumarni: Emang
tontonan yang gigit apaan?
Janda: Nonton
Doraemon depan kandang guguk.
Kimi: Itu mah
digigit betulan.
Janda: Namanya
juga nonton di tipi tetangga. Eh, by the
way, ya, tontonan jaman sekarang gak mutu banget deh. Srigala lah, harimau
lah, gajah lah, tukang bubur lah, kudanil lah, monyet lah *sambil melirik
Sumarni* Apa nggak ada yang mendidik dikit ya?
Kimi: Yah gitu
lah. Bukan masalah mendidik atau nggaknya. Yang penting itu uang. Asal uangnya
banyak mah, gajah juga dijadiin artis, deh.
Sumarni: super
sekali.. *tepuk tangan* nah, security, security, tolong usir orang miskin ini
*menunjuk kearah Kimi*
Kimi: eh, elo ya
*maju ke arah Sumarni*
Sumarni: lo yang
dari tadi cari gara-gara *maju ke arah Kimi*
Kimi: mau lo apa,
sih?
Sumarni: *menampar
Kimi*
Kimi: ehhh, edan
*menampar Sumarni balik*
Kimi &
Sumarni: *berkelahi ringan*
Narator: sementara
Kimi dan Sumarni berkelahi sesuai skenario, Sang Janda mengeluarkan sebuah
kalung dan memakainya sesuai skenario.
Narator: Eh,
Sumarni, itu kalungnya sama si Janda *menunjuk ke arah Janda*
*Kimi &
Sumarni berhenti berkelahi*
Sumarni: Oh kamu
yang menemukannya, ya. Kembalikan kalungku! *menunjuk dengan marah kearah
Janda*
Janda: enak aja.
Susah-susah mungut mau diambil begitu saja? Heheheh, kalian bodoh sekali tidak
sadar dari tadi.
Kimi: Kau hebat
sekali dalam menipu.. Sial! Jangan-jangan kau adalah..
*ketakutan*
Janda: ya, benar,
itulah aku, Hahahahah *ketawa jahat*
Kimi: Nenek Gayung
Naik Haji!
Sumarni: Ah, lu
mah kebanyakan nonton sinetron.
Janda: Hus, bukan!
Aku adalah preman yang kalian bicarakan *ketawa jahat*
Kimi: Sum,
tenanglah. Disaat begini, kita tidak boleh main kasar *dengan nada sok bijak
sambil menoleh ke Sumarni, lalu menoleh kearah Janda dengan dagu terangkat* Eh
lo, kalo masih sayang nyawa, kembaliin kalung nya.
Janda: *ngeluarin
uang yang banyak* Sini lo, bantuin gw.
Kimi: *ngambil
duit sambil ngitung* Gw mah setia kawan, gak peduli sama duit. Hati-hati, musuh
kita kuat *menunjuk ke Sumarni*
Sumarni: Huh,
dasar kere *ngeluarin uang lebih banyak*
Kimi: *mengambil
duit dan berganti pihak*
Janda: *kembali
mengeluarkan uang, namun kali ini, Narator yang mengambilnya dan berada dipihak
si Janda*
Janda: nah, kalian
mau bagaimana sekarang?
Narator:
menyerahlah kalian.
Sumarni: sudahlah
Kimi, lebih baik pulang. Lagian, masih ada 999 kalung yang lain dirumah.
Kimi: *sambil
ngitung duit* Ya udah, lagian, ikatan sahabat kan tidak dapat dibayar oleh
uang.
Narator:
betul-betul *ngantongin duit yang dikasih si Janda* Begitulah kisah
persahabatan Kimi dan Sumarni yang kaya dan miskin. Akhirnya mereka tumbuh
biasa dan mati dengan biasa saja, sedangkan si Janda menemukan suami yang biasa
dan hidup seperti biasanya. Tamat. Wassalamualaikum Wr. Wb.
Semoga bisa membantu ^_^

